Who Lives Sees Much. Who Travels Sees More. Adventures, Backpacking, Photography.


Google



Traveling di Situs Warisan Dunia sungguh sangat membanggakan. Sebuah petualangan menuju lingkungan yang unik, menggengam budaya setempat, menjadi bagian dari kehidupan yang berbeda dan tentu membangun kenangan yang tak terlupakan. Dibawah ini adalah tips untuk membantu meningkatkan apresiasi dan memberikan benefit bagi situs Warisan Dunia yang kita kunjungi.

Sebelum Traveling

  • Cari tahu sebanyak mungkin info. Semakin kita mengetahui tentang situs Warisan Dunia sebelum kita datang, semakin membuatnya hidup. Lihatlah info mengenai sejarah situs, budaya, lingkungan alam, adat istiadat, legenda setempat, petunjuk/peringatan dsb. Website dari Pusat Situs Warisan Dunia UNESCO ( http://whc.unesco.org) adalah titik awal yang bagus.
  • Belajar beberapa patah kata dari bahasa setempat. Tunjukan upaya untuk berbicara dalam bahasa setempat yang bisa membawa untuk berinteraksi dengan orang-orang yang mungkin lebih tahu tentang situs. Penduduk akan menghormati upaya dan ketertarikan anda untuk belajar. Kata sederhana sepert “Apa kabar”, “ Tolong”, “Terimakasih” bisa sebagai awal.
  • Packing ringan. Selalu saja ada godaan untuk membawa semua barang yang kita butuhkan, tetapi ingatlah untuk selalu pintar memilih. Membungkus items seperti kotak kertas atau plastik pembungkus untuk pasta gigi yang baru, tentu memakan tempat dan menciptakan sampah yang berlebihan.
  • Pilihan akomodasi. Lihatlah hotel yang mempunyai pernyataan resmi tentang pengaruh lingkungan terhadap system kerja dan kebijakan menurut budaya setempat. Prinsip-prinsip Aliansi Situs Warisan Dunia dapat menjadi guideline untuk memilih hotel.
  • Explore pilihan transportasi. Ingat bahwa travelling memberikan efek kepada lingkungan. Dimanapun berada, cobalah untuk meminimalkan polusi dan pengaruh terhadap lingkungan dengan mencari alternative transportasi dan menanggalkan emisi karbon.

Ketika Traveling

  • Terlibat dengan budaya lokal. Sebuah ungkapan, “Ketika berada di Roma, berlakulah seperti orang Romawi” masih berlaku untuk saat ini. Perjalanan anda akan menghasilkan kesempatan emas untuk mengekplorasi budaya baru dan melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Ingat juga untuk mencoba menyantap makanan lokal, belanja di pasar setempat dan menghadiri festival atau perayaan sebagai bagian dari pengalaman budaya.
  • Membeli produk dan menggunakan jasa lokal. Memilih untuk mendukung pebisnis lokal, tur operator yang dijalankan komunitas berarti anda akan memperoleh pengalaman dan memberikan uang anda langsung kepada komunitas lokal. Sebelum membeli barang, tanyakan dulu asal barang tsb. Hindari membeli barang yang dapat mengancam sumber alam dan laporkan adanya perburuan liar atau illegal kepada pihak berwajib.
  • Hindari menawar dengan agresif. Sangat sulit untuk mengetahui batas menawar, jadi jika anda tidak yakin tanyakan pada pegawai hotel untuk saran berguna. Ingatlah bahwa membeli barang bisa berakibat langsung kepada kehidupan penduduk setempat. Putuskan apakah perlu memberikan ekstra tip jika di kemudian hari memberikan efek yang besar.
  • Sewa guide setempat. Perkaya pengalaman dengan memilih guide dari lokal yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang destinasi. Tanyakan lokal tur operator atau hotel untuk rekomendasi yang baik.
  • Perlakukan situs dengan hormat. Destinasi yang kita tuju adalah mempunyai nilai lebih dari sisi kekayaan alam dan budaya. Buatlah mereka tetap terjaga dengan berjalan di trail yang sudah disediakan, menghormati jagawana/ penjaga situs, dan jangan mengambil artifak arkeologi atau biologi dari situs.
  • Hormati lingkungan alam. 3R –Reduce-Reuse-Recycle yakni kurangi, gunakan kembali, daur ulang. Walaupun kita hanya mengunjungi, buanglah sampah pada tempatnya, meminimalkan konsumsi air dan enerji yang akan memberikan benefit bagi situs dan penduduk setempat.
  • Think of the big picture atau pikirkan dalam skala yang lebih luas. Mendukung ekonomi lokal adalah hal yang penting, tetapi beberapa aktvitas tourism dapat membuat sebuah situs Warisan Dunia menjadi rapuh. Bilanglah “Tidak” untuk souvenir yang merupakan bagian dari situs itu sendiri, dan aktivitas pengunjung yang dapat mengancam kelangsungan hidup situs tadi.

Setelah Traveling

  • Sebarkan tips untuk travel yang bertanggungjawab (responsible tourism). Bagikan kepada keluarga dan kawan tentang indahnya kenangan ketika kita mengunjungi situs tadi. Jangan lupa bagikan tips sehingga mereka bisa memberikan pengaruh positif pada situs Warisan Dunia ketika melakukan perjalanan berikutnya.
  • Bagikan photo dan catatan anda. Photo dapat mengungkap seribu kata. Tunjukkan dan bagikan tentang pengalaman mengunjugi Situs Warisan Dunia melalui Friends of World Heritage Photo Contest.
  • Makin menjelajah. Traveling hanyalah awal untuk belajar. Ketika kita tiba di rumah, teruskan untuk mempelajari dan makin terlibat pada issue penting di daerah. Bangun pengetahuan dan juga terus mempelajari situs Warisan Dunia yang lain.
  • Berikan kembali. Traveling terkadang membuka mata dan hati terhadap sesuatu yang baru, Anda dapat meneruskan untuk memberikan inspirasi kepada generasi selanjutnya tentang situs Warisan Dunia dengan mendonasi sejumlah uang pada Friends of World Heritage Fund.

Sumber : terjemahan bebas dari http://www.friendsofworldheritage.org/issues/traveling-responsibly/tips.html

Labels: ,




Jika pengen nginap di hostel Singapura yang lebih tenang dengan atmosphere backpacker yang tidak riuh coba saja di Hangout@Mt. Emily. Terpencil tapi bersahabat baik untuk backpackers ataupun keluarga, Hangouts memberikan kualitas yang tidak kalah dengan hotel bintang dua.

Karena alasan diatas saya memilih untuk sedikit kompensasi dengan kebutuhan. Tidak terlalu mahal, bersih dan kemudahan akses ke tempat-tempat yang jadi sasaran jalan. Alasan yang lain adalah udah bukan rahasia lagi kalau hotel murah (baca : jaringan hotel Singapura khususnya Geylang) adalah tempat yang remang. Daripada dianggep cem-macem, saya jauhkan dari wilayah ini.

Godaan untuk nginap di hostel backpacker di daerah Little India hampir membuat saya kembali kesana. Lah makanan halal banyak dan akses ke MRT mudah banget. Tapi kali ini saya pengen beda. Merasakan hostel yang menuntut sedikit jalan kaki menuju MRT.

Hangout@Mt. Emily (seterusnya disingkat Hangouts) letaknya di sebuah bukit dekat Mt. Emily Park. Jarak dari Orchard Rd dan Little India 10-15 menit jalan kaki. Soal jalan kaki, lebih menyenangkan di Singapura ketimbang di kota besar Indonesia. Dijamin teduh karena masih banyak pepohonan tinggi dan gede.

Ini karena salah satu kewajiban pihak pembangun di Singapura adalah menanami kembali pohon yang ada di site konstruksi. Jaangan heran kalau tengah malam ada trailer lewat dengan pohon diatasnya. Biasanya pohon diambil dan dirawat sementara di sebuah nursery hingga pembangunan selesai. So, kalau liat bangunan baru tapi pohonnya udah tua, ya itulah sebabnya.

Hangouts sebenarnya adalah bagian dari sebuah jaringan bisnis Cathay. Jadi mereka sengaja bikin hostel yang disubsidi. (well, namanya hotel tapi mereka mengasosiasikan bagian dari Hostel International-HI). Buat yang masih bingung antara hostel dan hotel, mungkin penjelasan dari Wiki disini bisa membantu.

Yang membedakan Hangouts dengan hostel lain adalah adanya kamar berbanyak (Rooms). Jadi maksimal satu kamar diisi 4 orang (quad) dengan pilihan dobel atau single bed plus kamar mandi didalam. Jadi serasa lebih private terutama yang belum pernah nyoba tipe asrama (dorm) ataupun bawa anak-anak. Di Hangouts juga tersedia dorm baik cowok-cewek only ataupun campur dengan tarip S$34-40 per orang (blun termasuk GST-pajak dll).

Tips : coba book lewat website Hangouts langsung, karena kemungkinan lebih murah dari harga yang terpampang dengan system promosi paket. Cuma sedikit ribet dengan menyertakan data seperti no. passport dan no. kartu kredit.

Selama saya tinggal, tidak ada keluhan berarti kecuali suara bangunan di samping (ini dijelaskan di website mereka). Untuk makan-pun dekat sekali dengan New Sophia food court, yang dengan jalan pintas cukup 3-5 menit. Kalau mau yang halal dan murah, pada arah menuju MRT Little India ada warung (hawkers) pojokan di Mt. Emily Rd.

Tips : tentang direktori hawkers/foodcourt/restaurant halal di Singapura bisa dilihat di http://www.singaporehalaldirectory.com/ Tapi karena perubahan yang dinamis banget, perlu dicek lagi. Salah satu tanda mudah adalah stiker gede halal keluaran MUIS –MUI-nya Singapura di depan warungnya.


Di lantai 3 terdapat ruang komuniti, yakni tempat buat nonton TV (Veg-Out), main games atau chilled out baca-baca (Time-Out). Ada juga ruang komputer (Log-Out) untuk free akses sejumlah 8 biji, plus teh dan kopi gratis setiap saat. Harga yang saya bayar ternyata udah termasuk breakfast. Walau disebut sederhana, tetapi disajikan dengan profesionalisme. Ini karena di lantai dasar Hangouts terdapat restoran kontemporer Wild Rocket yang kecil dan anggun. Pagi hari disinilah disuguhi breakfast yang lumayan ngisi perut sebelum jalan.

Kamar saya sih sederhana aja. Ngga ada teve (yipey..), yang penting kamar mandi & sprei bersih. Letaknya juga dipojok hingga mendapat view ke depan. Salah satu kelemahan hotel murah di Singapura adalah pemandangan. Ada beberapa yang malah ngga ada jendela atau dikasih kecil aja.

Seperti hostel lain. Hangouts juga menawarkan shuttle ke Airport (S$10 dengan jadwal 4X sehari) ataupun diskon tiket ke tempat wisata seperti Singapore Flyer atau Zoo atau Night Safari. Mayan loh…

Buat lebih meyakinkan, Hangouts pernah mendapatkan penghargaan sebagai Best Accomodation Standard th 2005 dan 2006. Well, jangan terlalu berharap jadi seperti hotel kelas wahid yah, tapi buat skala saya cukup terjangkau di tengah belantara mahalnya akomodasi di negeri singa.

Recaps :
Hangout@Mt. Emily
10 A Upper Wilkie Road, Singapore, Singapore 228119
Phone +65 6438 5588
Fax +65 6339 6008
S$113 (inc tax & breakfast, for 3people, rooms)

MRT terdekat : Little India (jalur ungu), koneksi langsung dengan Harbour Front (pelabuhan ferry dari Batam)
Booking via website langsung, atau di Agoda atau Hostelworld. Note : tidak ada link untuk booking lewat HI


Pro :

  • cocok buat keluarga dan anak-anak.
  • untuk yang belum pernah di asrama atau dorm.
  • relatif murah, jika dipukul rata masing2 bayar S$30-40 perkepala per malam dengan makan pagi.
  • bersih, terawat dan kamar mandi private.
  • akses foodcourt dan MRT cukup dekat.
  • wi-fi dan free akses, diskon tiket, locker.


Cons :
  • letaknya sedikit terpencil, perlu ke jalan besar untuk ngeplang taksi klo ngga mau charge booking S$2.5
  • lagi ada konstruksi di samping dan belakang.
  • sedikit ribet klo pesan langsung via website.
  • atmosphere backpacker kurang kerasa karena ngga ada ruang masak.

Labels: , ,




Pajak atau GST di Singapura adalah sebesar 7% dikenakan pada semua barang/services yang dibeli di negara itu. Karena status kita sebagai turis maka, pajak ini akan dibayarkan kembali (refund) jika nilai transaksi lebih dari S$100 satu transaksi atau akumulasi dari 3 nota pada hari yang sama di toko yang sama, ketika akan meninggalkan negeri itu. Batas untuk mengklaim pajak ini adalah 2 bulan dari tanggal pembelian. Untuk ini ada caranya, bisa dibaca di informasi bagian Bea Cukai Singapura atau Singapore Customs.

Prosedur klaim refund GST berdasar pengalaman aja :


  1. Kalau beli barang, tanyakan minta nota "GST Refund" kepada bagian kasirnya sebelum membayar. Dia kemudian akan ngeprint nota yang sedikit beda yakni lebih panjang dan lengkap. Simpan sampai ketika akan pulang.
  2. Ketika sampai di bandara Changi & Seletar (catatan : refund ini ngga berlaku buat yg make ferry dari batam), cari tanda lokasi GST Refund. Kalau bawa barang yang mau dimasukkin bagasi (misalnya gede), klaim pajak ini sebelum check in. Soalnya nih oleh petugas bea cukai suka dicek barangnya. Ntar kalau mau klaim dah check in biasanya ditolak karena bukti ngga ada walau notanya ada. Karena kita belum check in maka tunjukkan tiket pesawat pulang. Ada juga loket GST Refund setelah melalui pintu imigrasi, jadi jika barang tadi dijinjing masuk pesawat, tinggal menunjukkan boarding pass (yang berarti kita telah checkin). Secara lengkap bisa dilihat disini.
  3. Isi semua info di nota yang diberikan kasir, biasanya berupa nama, no passport, tanggal datang & pulang.
  4. Masuk ke loket dan serahkan semua nota yang udah dilengkapi. Petugas bakal melihat nota dan ngecek. Jika diminta menunjukkan barang satu persatu yah ditunjukkan aja. Kalau udah sempat dibuka, bilang aja udah dibuka atau udah kepake sebentar.
  5. Jika petugas oke, nanti nilai pajak akan diakumulasi berdasar nota2 tadi. Ohya catatan, untuk toko2 yang berpartisipasi memproduksi nota GST refund, ternyata kita dimintai fee admin. Biasanya sekitar S$2.50. Jadi kalau besaran refund ngga sama dengan itungan kasar 7% tadi, kemungkinan karena toko udah motong duluan.
  6. Petugas akan memberikan refund berupa kes kepada kita sebagai pengembalian GST tadi. Catatan : ada beberapa toko yang melakukan proses ini secara langsung, misalnya Mustafa (letak GST di bagian paling bawah B2). Jadi refund dikirim melalui bentuk cek ke alamat kita di Indonesia.

Labels: , ,





Fasilitas checkin online di Airasia (AA) sebenarnya udah mulai tersedia sejak Selasa, 17 Februari 2009. Toh baru kali ini saya mencoba. Catatan : ini juga adalah perjalanan saya yang pertama dengan AA Indonesia, setelah menikmati AA versi Malaysia, Thailand dan Singapura.


Checkin online bukan hal baru, seperti yang disimak disini http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/message/27856


AA memberlakukan ketentuan buat yang mau checkin ini dengan cukup ketat. Yakni hanya diberikan waktu 48jam hingga 4 jam sebelum penerbangan. Juga tidak tersedia bagi calon penumpang yang hamil, punya anak, punya kebutuhan khusus (disable), anak dibawah 16 tahun yang pergi sendirian, atau travel dalam grup lebih dari 9 orang. Satu hal lagi walau checkin online ini untuk semua penerbangan AA. Jika pesan lewat Call Centre kurang dari 48jam, fasilitas ini kagak bakal ada.

Tip1 : makin awal chekin makin besar kemungkinan pindah tempat duduk yang dikehendaki.


Proses web check in sebenarnya sangat mudah. Menuju ke halaman

http://webcheckin.airasia.com/webcheckin/main.aspx?lang=EN


Tinggal memasukkan asal dan tujuan serta booking number maka akan digiring ke proses delapan tahap termasuk menambahkan biaya bagasi dan printing.


Salah satu opsi web checkin adalah mengganti tempat duduk (Pick A Seat –yang iklannya di TV sinetron bangets tuh). Untuk web check in sebenarnya sudah dialokasikan tempat duduk. Hanya saja, jika ngga puas bisa mengganti dengan duit lagi. 15rebu untuk standar dan 75rebu untuk hot seat. Well, yang dimaksud hot seat ternyata 5 baris dekat pintu depan atau 2 baris dari jendela darurat. Maksudnya apakah memberikan kemungkinan keselamatan lebih gede, tetap saja masih dipertentangkan dalam dunia aviasi.

Tip2 : jika pesan tiket dengan satu penumpang, kemungkinan dikasih window seat lebih besar. Jadi kalau mo pesen 3 orang, pesan aja satu dulu dan kemudian dua orang dalam akun yang sama. Otomatis system akan mengalokasikan di 3 baris yang sama walau tidak di hot seat. No more drama!


Keuntungan web checkin adalah kemudahan bagi penumpang karena menghindari antri panjang membuat pengalaman terbang lebih menyenangkan. Artinya penumpang cukup ngedrop tas dan konfirmasi ID atau travel dokumen (visa & paspor) jika ke LN. Disisi AA, praktek ini membuat biaya operasional menjadi lebih murah karena bisa mengurangi personel di bandara, mengurangi biaya cetak dan bisa dianggap sebagai ramah lingkungan karena mengurangi konsumsi tinta warna dan kertas. He he he apa perlu kampanye Earth Friendly AA yah?

Tip3 : print dengan set gray atau black and white dokumen ketimbang set warna.


Satu syarat yang cukup berat buat backpacker yang aktif adalah ketersedian printer. Karena boarding pass akan diberikan begitu proses web checkin in di tahap akhir. Printer adalah syarat mutlak. Ini cukup mengganggu buat yang ngga sempet mampir kantor atau punya print dirumah atau berada di negara asing yang terpencil. Ngga ada waktu dan sarana.



Mungkin yang perlu dipikirkan kedepan adalah kemampuan untuk konfirmasi checkin via mobilephone dalam bentuk sms atau email yang lebih luas. Kalaupun alasan karena diberikan bar code (kode batangan), pertimbangan ini bisa dimaklumi jika AA mencoba berhati-hati soal kejelasan identitas calon penumpangnya. Bukankah udah ngga rahasia lagi klo penumpang Indonesia suka pinjem KTP orang?

Tip4 : dedikasikan email untuk urusan pesanan/checkin tiket yang bisa diakses via mobile hape seperti gmail. Atau punya hape yang mampu akses via WAP atau layan SMS (Malaysia , Indonesia & Thailand dengan mengetik SMSCI). Pesan tiket juga bisa dilakukan lewat mobile.airasia.com


Biaya bagasi ini cukup menjebak terutama buat yang ngga siap ditarik biaya over baggage. AA adalah budget yang memberlakukan bayar bagasi dengan akumulasi berat bukan per biji. Dalam promo mereka mengiming-imingi diskon 50% biaya bagasi jika dilakukan bersamaan dengan booking tiket (pre-book). Yakni sesuai dengan opsi per penerbangan. Jika pesan return (tiket PP), maka set bagasi juga dua buah : berangkat dan pulang. Jika dilakukan supersize bagasi di bandara, taripnya cukup mencekik. Daftar tarip bisa dilihat di Bookings > Baggage Supersize. Untuk Indonesia bagasi hingga 15kg dihitung 60rebu, sedangkan di Singapura adalah SGD4.0 saja.

Tip5 : perhitungkan bagasi ketika pesan tiket berikut saat pulangnya. Apakah bakal belanja banyak ketika berangkat atau sebaliknya.


Saya sendiri booking lewat site AA di Singapura dan menghubungi Call Centre untuk menambah bagasi dua hari sebelum perjalanan. Begitu transaksi dilakukan, tidak ada kemungkinan untuk merubah baik dibatalkan ataupun diganti kecuali di bandara yang tentu dengan tarip non diskon. Anyel dah…

Tip6 : menambah bagasi sangat mungkin hingga 24 jam sebelum terbang, Jadi packing barang lebih awal untuk memperkirakan berat bagasi.


Yang cukup menggelikan adalah harus meyakinkan pihak petugas di bagian pintu keberangkatan yang menanyakan boarding pass. Bentuknya yang tidak seperti boarding pass biasa berupa print dengan cap merah dari staf AA saat drop bagasi di meja checkin (biasanya mereka pake printout seperti nota), sempat menjadi perhatian khusus. Nampaknya pemakaian web checkin belum dikenal luas, terutama rute AA yang didaerah.

Tip7 : ketika ngedrop bagasi, bawa pula print out tiket untuk dilihat nomer boking. Staf AA minta buat cek dan ricek.


Secara keseluruhan, pengalaman web checkin lancar dan gampang. Yah cuma sedikit mengganjal adalah keterbatasan opsi printing. Kalau misalnya AA menawarkan web checkin, seharusnya infrastruktur pengiriman konfirmasi diperluas. Atau jika untuk menarik lebih banyak, langkahnya adalah memberikan konter khusus untuk drop bagasi saja ketimbang harus menuju meja yang sama. Terutama pada bandara yang ngga dipasangin kiosk (ternyata hanya Jakarta dan Bali yang ada kiosk-nya).


So, mungkin ada yang punya pengalaman lain?



Labels: , ,





In the old days, the land felt a great emptiness.
It was waiting.

waiting to be filled up.

waiting for someone to love it.
waiting for a leader.
And he came on the back of a whale...

a man to lead a new people
.
Our ancestor, Paikea.



Paikea, gadis kecil Maori membisikkan mantra pada sang ikan paus, menenangkannya untuk bersedia dibawa kembali ke tengah lautan. Delapan ikan besar terdampar di bibir pantai, tak berdaya. Upaya untuk memindahkan ke laut pun sirna. Terlalu kuat, terlalu besar. Dengan memberanikan diri, Paikea naik ke punggung sang pemimpin ikan paus, memberi semangat dan perintah untuk tidak menyerah. Seperti kisah leluhur pemimpin suku Maori di Hawaiki, Paikea akhirnya menjadi penunggang ikan paus, Kisah mengharukan dalam film Whale Rider (2002) menceritakan hubungan yang indah antara ikan paus dengan suku Haka di New Zealand.

Terkesan banget dengan film itu membuat saya penasaran melihat ikan paus. Bukan di kebun binatang atau aquarium, tetapi di habitat asli. Dalam beberapa tahun ini ikan paus menjadi contoh klasik perjuangan lingkungan. Simbol korban pemanasan global dan ketamakan manusia seperti halnya beruang kutub. Hubungan yang indah dan harmonis itu berubah menjadi bentuk eksploitasi. Ikan paus adalah komoditi, seperti sumber yang tak habisnya.

Lantas apa sih keistimewaan seekor ikan yang besar ini. Ternyata ikan paus bukanlah ikan. (Jadi translasi “ikan paus” itu perlu dipertanyakan). Whales adalah spesies yang masuk dalam mammalia, yang jelas bernafas dengan paru-paru bukan dengan insang seperti ikan. Kalau dikenang sisi kitab tiga agama –Jahudi, Kristen dan Islam, kisah Nabi Yunus yang berada di perut ikan paus selama tiga hari adalah favorit saya sejak kecil. Jadi rasanya hubungan cinta antara manusia dan ikan paus tak hanya terurai lewat ayat. Sudah menjadi bagian sejarah.

Dua setengah tahun lalu saya mendatangi Whale Watching di teluk Monterey di California. Sayangnya badai dua malam membuat misi jadi gatot. Desakan hati membuat saya nekad mencoba. Kali ini saya beruntung, yakni tepat dimulainya musim panas.

Dari bulan Mei hingga Desember perariran di teluk Monterey hingga Baja di California adalah spot menarik. Ikan paus berbagai jenis dalam perjalanan migrasi menuju lautan yang lebih dingin seperti Canada mampir disini untuk mengisi perut. Posisi berada di pantai barat benua Amerika berhadapan dengan lautan Pacific adalah tempat ideal bagi ikan kecil seperti anchovies (teri), sardin dan krill, sumber makanan si ikan paus.

Minggu pagi saya bersiap cek in di dermaga sembari menyiapkan perbekalan. Calon penonton diminta berada di lokasi dermaga Fisherman’s Wharf sebelum pukul 9 pagi. Walau sudah hangat namun angin dingin membuat saya mantab memakai baju lapis, hingga jaket tahan air. Alat photography terpaksa dibagi untuk mendapatkan hasil terbaik. Ngga sempat sarapan, cuma muesli bar dan segelas kopi.

Rupanya sarapan sedikit ada untungnya. Naik perahu Sea Wolf I diperuntukkan bagi yang tahan mabok laut. Gelombang cukup ganas, terutama pada karang datar yang menghempas dengan kejam. Captain Mike mengingatkan. Jika ngga kuat, larilah ke belakang kapal. Sumbangkan sarapan anda untuk ekosistem laut California. Mencoba sok berani duduk di depan, tapi ternyata cipratan air laut ngga kepalang. Demi kamera saya mundur teratur. Air laut euy…

Begitu meninggalkan dermaga, kabut tebal masih mengambang di permukaan. Jejak Horizon nyarik tak nampak, hanya air laut yang berwarna abu-abu, seperti halnya langit. Tidak ada biru, tidak ada sinar matahari. Cilaka buat motret kalau cuaca begini.

Hanya sekitar 20orang di kapal, sebagian duduk manis. Sekitar 45 menit di lautan lepas, saya bisa melihat langit biru. Sinar matahari rupanya mengangkat kabut. Semua mulai terlihat sumringah. Scientist yang bareng dengan kami menerangkan banyak aspek tentang habitat di Monterey, sebelum ia mengenali pundak panjang ikan paus beratus meter didepan. Kami terhenyak. Baru yakin ketika ekornya yang besar mulai menghilang.

Ikan paus humpback (Megaptera novaeangliae) pertama pagi itu rupanya dalam perjalanan menuju spot favorit. Timbul tenggelam di lautan dengan kecepatan 4 knot mengimbangi gerak cepat ikan paus tadi. Baru disadari, tidak hanya satu tapi sebuah tim dengan tujuh ekor menyelam dengan kecepatan stabil. Menilik lokasi mereka memang diperlukan mata yang tajam. Satu2nya petunjuk cuma semburan udara yang keluar dari dua lubang punuk.

Tak jauh serombongan ikan lumba-lumba white sided pacific dolphin (Lagenorhynchus obliquidens) menemani kapal. Jungkir balik, bermain dengan lincahnya. Ikan lumba2 ini biasanya menyertai ikan paus terutama disaat perburuan makan.

Indikasi ikan paus berburu mulai terlihat ketika ketujuh ikan tadi membuat formasi melingkar. Mereka ini mengambil posisi hunting sambil mengeluarkan gelembung udara didalam air. Ini semacam penghalang ribuan ikan keluar dari perangkap. Begitu ikan tak bisa keluar, ikan paus dengan mulut terbuka menerjang ribuan ikan tadi. Yaitu menerkam dengan sekali telan. Dari jauh terlihat besaran mulut ikan paus berlomba dalam gerakan yang simultan terkoordinasi.

Metode hunting ini sangat mengesankan para peneliti karena menunjukkan tingkat kecerdasan dan pembagian peran yang terencana. Masih belum diketahui bagaimana ikan paus mengkoordinasi serangan ini, karena berbeda dengan ikan paus yang lain, humpback tidak menggunakan bunyi sebagai “echo location” atau lokasi gaung. Nyanyian ikan paus humpback ditengarai hanya untuk memulai musim kawin. Teka-teki yang masih harus dipecahkan oleh peneliti binatang.



Kamera di tangan susah sekali mengikuti kecepatan sambar yang terjadi tak terduga. Saya melirik iri pada kamera disamping. 8 frame per seconds (fps). Bunyi deretean tombol seperti ngga henti. Gilaaa mak…. Lensa saya sama dengannya tapi bodi kalah jauh. Dalam situasi begini, kamera tua saya rasanya menggeh2 mengikuti terjangan ikan paus. Saya ternyata salah strategi, terlalu berkonsentrasi pada lumba-lumba yang berenang lebih dinamis. Posisi di atas kapal juga berpengaruh. Benar kata orang jualan: Location..location..location.


Dalam adegan “feeding frenzy” selama 1 jam ini hentakan dan gumulan ikan paus makin mengesankan. Saya hitung minimum tiga kali episode serangan simultan. Tak jauh ratusan burung camar bergerak mengitari lokasi. Berlaku sebagai oportunis sejati, burung camar dan pelican ini mengambili ikan2 yang lolos sergapan ikan paus. Kebanyakan dalam kondisi lemah karena terluka. Dengan mudah tinggal menukik tajam ke permukaan laut, menyambar dengan cepat.

Beberapa burung albatross (Phoebetria palpebrata) melintas. Bentuknya yang khas dengan sayap tajam dan badan gembul membuat terlihat beda diantara kawanan burung camar. Burung albatross sangat istimewa karena bentangan sayapnya yang melebihi tinggi manusia. Tubuhnya sangat besar dengan kemampuan ‘glider’ yakni terbang dengan meluncur, membuat tingkat efisiensi yang tinggi. Menjelang dewasa, burung albatross migrasi mengelilingi bumi tanpa pernah menjejakkan kaki di daratan. Tahun lalu saya sempat mampir di Otago Peninsula, New Zealand mengamati koloni burung albatross.

Beberapa kali saya sempat memergoki singa laut (Zalophus californianus). Kepalanya yang ramping timbul tenggelam diantara ombak tinggi. Di teluk Monterey dan jajaran pantai sekitarnya, singa laut ini banyak banget. Rupanya pesta ikan ini banyak mengundang kawanan lain.


Kami bergerak mengikuti kawanan ikan paus, lumba2, ikan dan singa laut hingga setengah jam. Sebelum akhirnya pesta berakhir. Humpback menuju laut bebas dalam format sejajar. Kami tahu, sudah saatnya kembali ke dermaga.

Saya teringat dengan tradisi perburuan ikan paus sperm whales (Physeter macrocephalus) di Lamalera kepulauan Lembata, Timor. Perburuan dan pembunuhan ikan paus adalah bagian dari tradisi dan kehidupan sehari-hari. Dengan hanya menggunakan dua kapal nelayan (peledang), sebentuk bambu (kefa) dan badik untuk mencabik tubuh. Berbeda dengan negara lain seperti Jepang yang menggunakan teknologi modern, perburuan di Lamalera dianggap sesuai dengan sumber alam, kepercayaan tradisional dan gaya perburuan yang tidak berlebihan.

Kata “sustain” agaknya lebih tepat untuk menggambarkan tradisi perburuan di Timor, ketimbang komersialisasi. Ada mekanisme alam yang menjaga pendulum untuk selalu dalam level seimbang. Entahlah jika jumlah penduduk meningkat ataupun dianggap sebagai komoditi pertunjukkan turis. Saya sendiri ngga tega melihat perburuan ikan paus karena bisa dipastikan akan banyak pemandangan berdarah-darah.

Andai saya seperti Paikea, pastilah saya bawa ikan paus menerjang lautan. Melarikan diri dari ketamakan manusia.



Catatan kaki :

  1. Dalam budaya pop, saya cuma mengenali sebuah lagu dengan intro nyanyian ikan paus. Dibawakan oleh Kate Bush (Kick Inside 1978) dengan judul Saxophone Song. Suara Kate Bush yang melengking, agaknya seimbang dengan frekuensi jeritan ikan paus. Syairnya sendiri ngga menyinggung sama sekali soal whales. Aneh bangets...
  2. Yang lebih lucu adalah lirik lagu Enya –Sail Away sering disalah dengar sebagai Save the whales, save the whales, save the whales…
  3. Ada sebuah buku anthropologi dari Universitas Oxford tentang perburuan ikan paus di Lamalera. Judulnya: Sea Hunters of Indonesia: Fishers and Weavers of Lamalera (1996) oleh R.H. Barnes. Belum baca, tapi jika ada tinjauannya, mohon dijapri. Thanks banget.
  4. Nonton Sea Shepard –pentolan Greenpeace yang mengkhususkan pada perjuangan anti Whaling. Tapi liat pola sabotase-nya kok jadi seperti terrorism yaks...
  5. Nonton Whale Rider (2002) selalu berakhir dengan mewek…hiks hiks mengharukan soalnya. Trailer bisa dilihat disini
  6. Booking dengan nonton ikan paus ini lewat www.montereybaywhalewatch.com Biaya per orang US$45. Lewat telpon atau online. Kapal tersedia dua, Sea Wolf I dan II, yakni satu khusus untuk orang dewasa dan satu untuk family. Saya sendiri lebih nikmat dengan kapal kecil karena lebih sigap.
  7. Royal Albatross Centre di Otago Peninsula, Dunedin New Zealand. Tiket : NZ$39.
  8. Monterey Aquarium menyimpan koleksi kelautan paling mengesankan, terutama ubur2. Tiket US$29.95. Photo koleksi dua tahun lalu disini



As recorded on my camera, taken 2 March 2008. It was early spring in UK, nwet ad wet. Fortunately it was stop during walk but left the trail pretty much sticky on our boots. We enjoyed small walk along to the hills, back down looking the ruin of Corfe Castle. We saw steam train called Heritage Railway from Swanage start at Norden Station. The best thing about Corfe Castle is the tea room run by National Trust. It was a treat to taste scones and english tea after muddy walk.

video

Labels:




Clickair -budget airlines di Spanyol mulai 4 Maret 2009 memberikan tambahan layanan pembayaran dengan akun Paypal. Untuk membayar cukup dengan login nama pemakai (username alamat email) dan katakunci. Katanya sih untuk mengurangi ketidaknyamanan pengunjung karena memasukkan detail kartu kredit.

Berikut penjelasan Direktur Marketing clickair, Jaime Lloret :

"Kami telah mengambil beberapa langkah lebih maju untuk menawarkan pada penumpang sistem pembayaran yang lebih flexible dan inovatif. Saat ini calon penumpang mempunyai berbagai cara pembayaran yang menjamin kemudahan -apakah itu melalui travel agent atau menggunakan sistem baru ini untuk meningkatkan kebebasan pribadi secara online."

Labels: ,






Lesson II Franz Josef Glacier, New Zealand December 2007

Prospek melanjutkan ice climbing cukup menjanjikan. Kesempatan itu saya peroleh ketika backpacking ke New Zealand melewati dua titik glasier kenamaan : Franz Josef Glacier dan Fox Glacier. Yang membuat sedikit beda adalah lokasi manjat berada di luar. Jadi lebih alami, karena menggunakan dinding glacier untuk dipanjat. Saya pilih Franz Josef untuk climbing sedangkan di Fox saya dedikasikan untuk dinikmati dari udara sembari mencicip Mt. Cook.

Di dunia ice climbing, manjat glacier ini nomor dua dalam kepopulerannya. Yang paling diincar adalah memanjat air terjun yang membeku. Menurut si ahli es, air terjun membeku itu mempunyai kadar kekerasan struktur es yang lebih solid. Ini karena proses pembekuan instan membuatnya jadi super keras dibanding glacier yang terbentuk dari salju yang padat. Katanya tantangan ice climbing di air terjun itu lebih okeh. Itulah kenapa surga ice climbing tipe air terjun ini adalah di negara Canada dimana air beku lumayan banyak.

Franz Josef Glacier letaknya di pegunungan alps pulau Selatan di Westland National Park. Karena musim panas, membuat booking jadi antri. (Notes : musim di NZ terbalik dengan benua di sebelah utara hemisphere so desember adalah puncak musim panas). Kebanyakan memilih hiking atau walking mencicip seperti apa rasanya di es. Untunglah penggemar ice climbing ini bisa diitung. Pas banget bisa dapat slot melalui telepon sehari sebelumnya.

Saya diminta datang pagi-pagi ke bagian rental alat. Disini diminta memilih sepatu boots, helm, jacket goretex, crampon, sepasang kampak es, kaos tangan lantas dimasukkan dalam tas ransel yang sama. Jadi bener2 seragam deh. Ohya kaos kaki dari bahan wool dan celana tahan air juga disediakan tapi karena saya bawa sendiri jadi ngga saya ambil. Karena bakal seharian, disarankan bawa bekal makanan dan minuman.

Hari itu ada 8 orang peserta dengan guide 2 orang. Hampir semua pernah memanjat, tapi ada yang belum pernah memanjat di es. Ada tiga orang cewek, termasuk saya. Sisanya para cowok yang terlihat ngga sabar. Kami dibawa ke lokasi Franz Josef Glacier dengan mobil colt. Begitu tiba di parkiran, kami memulai trek menuju mulut glacier. Yah jangan dibayangkan jalan biasa, soalnya kami semua sudah memakai sepatu boots climbing. Jadi jalan seperti robot dengan bawaan lumayan.

Selama perjalanan kami melewati sungai yang terjadi karena lelehan glasier. Disana-sini bisa dilihat belahan es yang masih solid, terkadang mengalir bersama air sungai. Glasier Franz Josef terbentuk 2 juta tahun yang lalu ketika pegunungan alps terkubur oleh lapisan es setinggi 100km. Ketika era lelehan jaman es, gerusan proses mencairnya es ini membentuk lembah berukuran U dan puncak2 tinggi (fjord) dengan kedalaman hingga 500m dan menciptakan danau tampungan air lelehan tadi.

Franz Josef sendiri panjangnya 12km dengan lekukan yang mempesona. Menurut papan penjelasan disana, glasier ini mengalami lelehan besar2an tahun 1940an dan tahun 1980an. Apakah ini disebabkan pemanasan global? Well, banyak factor yang mempengaruhi kecepatan lelehan. Beberapa diataranya adalah banyaknya salju yang menambah beban, suhu di sekitar, juga aliran sungai yang berada di bawah.

Berjalan di lembah ini lumayan capek. Saya agak terseok-seok. Maklum, tubuh saya paling kecil dan jarak langkah pasti lebih pendek. Belum lagi batu-batu terjal agak menyulitkan dengan sepatu plastik berat begini.

Begitu mendekati kaki glasier, kami berhenti. Tak jauh dari sini saya bisa melihat `terminal face' yakni gua yang terbentuk karena lelehan horizontal. Ketika mendekat saya bisa mendengar tetesan air dan deru air. Ngeri juga melihat lobang dengan warna biru kelam diantara butiran pasir. Besarnya seukuran rumah. Posisinya yang berbahaya, membuat para pengunjung ngga boleh terlalu dekat. Dindingnya bisa runtuh setiap saat secara tiba-tiba.

Di mulut glasier ini kami diminta memakai crampon untuk melalui es dan salju. Saya juga menyaksikan beberapa orang guides yang sedang meratakan jalur dengan kampak es. Tampak mereka bekerja keras mengayun kapak, menghujam dengan keras untuk membuat jalan. Bayangkan saja, glasier ini tiap hari meleleh, hingga tiap hari harus memperbaiki jalur agar aman diinjak oleh pengunjung macam saya ini. Tak jarang jalur lama jadi menghilang dan terpaksa membuat cabangan baru. Jaluritu bisa dibuat seperti tangga, tapi sebagian besar cuma jejak langkah. Kanan kiri terkadang lubang glasier yang entah berakhir dimana. Saya bisa mendengar gerusan air dengan suara yang menyeramkan. (masih dilanjut)


Photo terbang diatas Fox Glasier dan Mt. Cook.

Labels: ,




Well, I have been skiing for the last three years. Most in South Lake Tahoe, between Heavenly and Sierra at Tahoe. I spent 3 days solid on the end of February skiing with Mr. C acted as my instructor. It was fun and exhausted, but I managed to get further stage. I am able to do blue lines and did some playing around difficult terrain. Still beginner though...




Posted by Picasa



Airasia dijadwalkan memulai kampanye global menyambut penerbangan ke London
mulai 11 Maret 2009.

Yang mau gabung bisa merayakan roadshow dimulai dari Jalan Raja Chulan, KL di
Malaysia. Acara serupa bakal digelar di Singapura, Bangkok dan Jakarta mulai 10
Maret 2009. Acara finale bakal diselenggaran di London pada 11-13 Maret.


200 free seat Airasia X akan diperebutkan selama kampanye ini. Yang ikutan bisa
mendapat kesempatan untuk memenangkan 2 tiket pp di setiap lokasi kampanye
dengan berpartisipasi pada acara games dan menjawab pertanyaan. Peserta juga
bisa mencoba menggunakan sabuk pengaman dan jaket pelampung, juga bagaimana
melakukan prosedur keluar darurat (emergency exit), berperan seperti kru pesawat
dan juga latihan membuat pengumuman dalam penerbangan (in-flight announcements).

Sumber : Airasia (Malaysia), Travel Blackboard

Labels: ,


About me

  • I'm --ambar--
  • From Sunnyvale, CA, United States
  • A self confessed travel junkies. Enjoys masochistic trekking as well as her Mac. Proud being Indonesian and Javanese where you'll find humble smiles
  • My profile

Last posts

Ambar's Sources

Ambar in other places

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from ambar_briastuti. Make your own badge here.

How to contact Ambar

  • ambar at ceritaambar.com
  • ambar at indobackpacker.com
  • Yahoo IM: ambar_briastuti
  • Gtalk : ambar.briastuti
  • Skype: ambarbriastuti

  • My status

ATOM 0.3


Primary Pulmonary Hypertension --> Creative Commons License
Jika suka artikel disini kontak dulu/beri reference untuk mengutip. Blog ini memakai Creative Commons Licence.