
Tadinya ini semacam test case (hiks gara2 gagal jadi presenter milih jadi produser ajah) tapi akhirnya saya dedikasikan podcast untuk travelling khusus Asia. Masih butuh polesan skrip dan narasi yang bagus. Ada dua episode yakni : River Mekong Journey (video) dan Monk Chatting in Luang Prabang (audio). Podcasting tentang Indonesia masih sangat terbatas. Sumber kebanyakan berupa foto2 bukan sound.
Hari ini rencananya akan dirilis lewat iTunes Music Store, jadi anda bisa mulai subscribe (insyaalah aktif besok). Balapan dengan Equinox DMD yang dibiayai Djarum saya mencoba format beda. Maklum klas indie dengan kapasitas 100 MB per bulan di libsync sebenarnya cukup banget untuk pemula seperti saya.
Pendapat dan saran ditunggu dari rekan-rekan. Ada beberapa ide contents misalnya interview, diskusi dan juga semacam Globe Trekker yang menampilkan off beaten path -jalur yang ngg biasa. Thanks for listening and watching. Enjoy !
Update 25th Feb 23:12 : ternyata saya harus bayar (lagi) untuk subscribe di iTunes. Weksss....sementara ini mencari iklan di kiptronic dulu sambil meningkatkan kualitas.
Labels: technology, travelling

Pengen jalan tapi ngg dapet inspirasi. Hah...itu lagi menimpa saya. Hari ini saya browsing ke Kinokuniya sembari menjemput titipan buku seorang kawan. Saya menemukan buku 1001 Natural Wonder You Must See Before You Die karangan Michael Bright (executive producer BBC Natural History Unit). Yang saya cari tentunya Indonesia. Sebagai pembanding saya gunakan daftar Unesco World Heritage yang juga menampilkan natural site sebagai salah satu katagorinya. Hasilnya hmmm cukup mengejutkan. Dalam buku itu Indonesia dikalahkan oleh Thailand dengan cukup telak. Dengan skor 10:29 features padahal Unesco menempatkan Indonesia sebagai site terbanyak untuk wilayah Asean. Yah memang kita masih harus belajar banyak.
Tapi akhirnya saya kompilasi saja hasil keduanya untuk site Indonesia. Kebetulan saya lagi bermain dengan Google Earth BETA untuk Mac. Jadilah main-main sembari belajar geografi lagi. Berikut kompilasinya :
Indonesia Natural Wonder :
Labels: travelling

DICARI PETUALANG - PETUALANG BARU
(CALON PRESENTER PROGRAM PETUALANGAN & DOKUMENTER)
PERSYARATAN :
1. Wanita, Tinggi minimum 165cm
2. Tubuh proporsional
3. Berpenampilan menarik
4. Belum menikah
5. Tidak berkacamata
6. Sehat jasmani dan rohani
7. Usia max. 25th
8. Menyukai kegiatan outdoor
9. Bisa berenang
10. Pendidikan min. D3 atau S1 sedang skripsi
11. Bersedia di kontrak min. 1 tahun
12. Berdomisili di jakarta selama masa kontrak

Sistem tiket kereta di Vietnam konon telah memakai komputer. Tetap saja masih ditemui kesemrawutan sana sini. Paling gampang adalah beli di stasiun di bagian booking for foreigners. Harga tiket untuk turis memang berlipat, tapi untuk kereta cepat seperti Reunification Train (klas SN) satu bed satu orang. Loket hanya dibuka beberapa jam sebelum kereta berangkat (untuk klas rakyat). Kalau waktunya mepet lebih baik menggunakan jasa travel agent yang tersebar dimana-mana. Pastikan mendapat tiket ditangan, bukan selembar kuitansi pembayaran. Tiket yang benar adalah seperti gambar diatas dengan ukuran 15X10cm. Saya beri angka warna merah untuk menunjukkan detail.
1. TN15 = nama kereta. Untuk klas rakyat dinamai TN sedang klas cepat adalah SN dengan nomor dibelakangnya. Nomor ganjil menuju Saigon dan nomor genap menuju Hanoi.
2. Soft Sleep = tipe tempat duduk. Untuk kereta malam biasanya ada compartment dengan tempat tidur. Soft artinya dengan kasur busa dengan 4 bed. Sedang hard sleep sebenarnya pake busa tapi tipis aja. Dua2nya diberi bantal dan selimut. Spesial kereta tipe SN, soft sleep dan hard sleep pake AC sedang yang rakyat kadang ada AC kadang pake fan.
3. Hue-Saigon = adalah rute yang dituju. Perlu diketahui nama resmi Saigon adalah Ho Chi Minh City (HCMC), namun semua orang masih menggunakan nama Sai Gon untuk berbagai hal.
4. Ngay di/Date 05/02/2006 = tanggal perjalanan. Ketika menerima tiket pastikan dengan jelas. Kalau tukang tiket ngg bisa bhs inggris, tulis di secarik kertas menunjukkan tujuan, tanggal dan jenis tempat duduk. Serahkan dan dia akan mengerti. Bahasa tulisan lebih manjur.
5. Toa/Coach 11T = nama gerbong. Sebelum naik, teliti dulu apa gerbong kereta dimulai dari nomor kecil. Nama gerbong ditulis di papan, ditempel/digantung di gerbong. Untuk kereta cepat, satu petugas menunggu di tiap gerbong sembari meneliti tiket.
6. Loai ve/Ticket Foreigner = jenis tiket. Untuk turis memang lebih mahal. Klo mau ngakali (he..he) minta dibeliin temen di Vietnam ditanggung kita dapet harga lokal. Lumayan kan…
7. Giao/Time = jam kereta berangkat. Bisa dibilang jarang ontime, tapi bukan berarti lantas datengnya molor. Minimum datang setengah jam sebelum jadual. Karena harus mencari letak peron/platform ataupun posisi ruang tunggu. Jika ada perkembangan baru biasanya diumumkan keras-keras tapi tidak dengan bahasa inggris. maka “being nuisance’ alias nanya-nanya terus.
8. Tang/Level 2 = ini level tempat tidur. Saya dapet no2 soft sleep berarti tempat tidur paling atas. Harga termahal tentulah yang paling bawah. Untuk SN ada tangga besi naik, sedang kereta rakyat cuma pake pijakan kecil di dinding. Siap2 latihan panjat dinding dah….
9. Giung/Berth 12 = nomor tempat tidur. Biasanya ada di pintu compartment lengkap dengan posisinya. Tapi untuk yang rakyat cuma ditulis pake spidol gede2 di pintu compartment.
10. Gia ve/Price 611.000 dong = harga tiket. Jangan beli tiket dengan US dollar bila perlu tukar uang dulu. Jurusan Hue-Saigon lumayan mahal maka siap2 duit cash.
Tips lainnya :
• Jika punya pengaman ransel sebaiknya dikaitkan ke tepi bed. Sebenarnya aman2 saja hanya paling sering adalah jambret ketika tidur.
• Bawa air minum banyak karena walaupun dibagi aqua tapi cuma dalam botol kecil
• Toilet lumayan bersih, ngg jorok (ups.. don’t expect too much). Bawa toilet paper/wet tissue untuk membasuh.
• Untuk kereta SN ada konter air panas gratis. Jadi klo mau bikin kopi/teh/mie sendiri juga bisa. Ada penjual resmi dorongan di kereta tapi harganya agak mencekik. Mosok kopi dihargai 10,000vnd ?
• Bawa buku/musik untuk menghibur diri. Abis lama buanget… kecuali di gerbong bertemu dengan teman mengasyikkan. Terutama dengan orang setempat, banyak cerita menarik bisa digali.
Links:
Vietnam Railways : situs resmi perusahaan kereta Vietnam lengkap dengan rute, jam dan harga (lokal).
How to travel in Vietnam by Seat61 (khusus kereta) : sebuah situs yang didedikasikan untuk pemakai kereta. Seat61 adalah nomor tempat duduk favorit kereta Eurostar yang dipakai Mark Smith seorang mantan manajer keretaapi di Inggris yang empunya web ini.
Labels: travelling, vietnam



Labels: travelling, vietnam
Tipe guesthouse di Hanoi (Vietnam) adalah kecil memanjang dan bertingkat. Jadi semacam lorong selebar 2-3m panjang 15m dan tingkat hingga lantai 7. Untuk yang paling murah biasanya di lantai paling atas karena ngg ada elevator atau tangga darurat. Pokoknya lumayan buat melemaskan kaki...Seharian itu kami habiskan ke Van Mieu atau Temple of Literature sembari jelajah pasar-pasar tradisional. Kami kesengsem dengan penjual dengan pikulan lengkap topi petaninya. Juga beberapa galery lukisan di jalan menuju Opera Hanoi. Kalau sempat dan ada uang maka belanja kain sutra disini. Selendang biasanya dihargai US$10-14, saya seh memilih beli eskrim saja yang cuma 2000vnd di sebuah drive thru ice cream shop. Si pembeli naik motor menuju semacam garasi, trus beli dan makan disitu sembari duduk2 diatas motor.
Kereta kami adalah jurusan Hanoi-Hue sebuah kota kecil bersejarah di pertengahan jalur Hanoi-Saigon. Jalur Hanoi-Ho Chi Minh City (Saigon) ini dihubungkan dengan Reunification Express membentang antara dua kota yang dulu dipisahkan oleh perang saudara. Ada 4 kereta yang berangkat tiap harinya, semuanya dinamai dengan S diikuti nomor yaitu S1 hingga S8. Nomor ganjil adalah kereta menuju Saigon (arah selatan) sedang nomor genap adalah menuju Hanoi (arah utara). Khusus untuk S1 dan S2 adalah kereta paling cepat (34jam) sedang lainnya adalah rata-rata 40jam (bisa lebih).Labels: travelling, vietnam

Kami booking untuk Sa Pa trekking dari sebuah travel agent di kawasan Old Quarter. Sebelumnya kami diberitahu tentang kesibukan jalur kereta pada tahun baru ini. Kereta ke Sa Pa yang seharusnya soft sleeper menjadi hard sit. Malam itu ada 4 buah kereta dengan tujuan sama : Lao Cai. Ini pula yang membuat kekhawatiran tersedianya tiket balik ke Hanoi makin besar. Terlebih kami tidak dibekali tanda booking kereta. Hanya secarik kertas berlabel Sinh Café yang menyebutkan jenis trekking.
Untuk jalur balik ke Hanoi ada 3 buah kereta : 730pm, 815pm dan 21pm. Dari Sa Pa menuju Lao Cai ditempuh dengan minivan memakan waktu hampir 1 jam. Kami menunggu konfirmasi tiket hingga menit2 terakhir. Sang guide saling melempar tanggung jawab. Hingga pukul 8malam ada beberapa orang yang mengalami hal yang sama. Ada 6 orang dari travel agent kami, lainnya walau sudah memegang pink form dan nomor tempat masih saja harus bertanya sana sini. Susahnya tidak ada papan informasi berbahasa inggris dan penjualan tiket hanya dibuka setengah jam sebelum kereta berangkat. Itupun kelas ekonomi bukannya kelas turis.
Kereta api untuk jalur Sa Pa mempunyai klas turis seperti Royal SapaTrain yang umumnya berisi compartement dengan tempat tidur keras dan lunak. Keras (hard sleeper) sebenarnya sudah lumayan karena dibekali selimut dan sprei. Hanya saja untuk satu compartment ada 6 tempat tidur kanan kiri masing-masing 3 tingkat. Untuk klas lunak (soft sleeper +AC) tiap compartment ada 4 tempat tidur. Disamping lebih leluasa juga lebih aman.
Penantian tiket kami nampaknya sia-sia karena nyaris semua penumpang sudah masuk gerbong. Hanya tinggal sekitar 10 orang yang tercecer. Kami antri di depan pintu gerbang yang membatasi peron dengan ruang tunggu. Dua penjaga pintu gerbang mulai menutup pintu. Saya sudah hampir putus asa. Kami harus tinggal sehari lagi di Lao Cai.
Guide (atau mungkin merangkap calo) mulai melancarkan rayuan terhadap penjaga. Ditunjukkan fakta bahwa kami sebenarnya punya tiket tapi tidak bisa konfirmasi. Begitu lengah lantas kami berhamburan ke atas kereta. Lolos diatas gerbong bukannya selesai. Kami dihadang manager kereta, seorang perempuan berusia 40 tahun nampak dengan tegas menolak kami masuk gerbong. Kembali tarik ulur dan ketegangan terjadi. Bahkan sang manager jelas menunjuk saya yang bermuka mirip orang Vietnam. ‘I am not Vietnamese’ saya menyahut sebelum ia bertanya. Dua orang dibelakang saya menyikut meminta masuk. Nekad lantas menerobos gerbong, tampak sang manager mulai setengah hati. Kereta melaju pelan…dalam hati kami bersyukur bisa numpang. Yakin bahwa ngg bakalan mereka menurunkan kami di tengah jalan, apalagi di kawasan pegunungan begini, tengah malam lagi.
Bergegas kami mencari tempat tidur. Dengan heran saya menyambangi compartment di gerbong itu. Mungkin hanya 60% terisi, loh kenapa mereka bilang ‘full booked?’ Seorang cewek Vietnam yang saya kenal dari Hanoi menghampiri. Ternyata kami bernasib sama dan ia meminta kami pindah ke ruangnya. Empat sekawan-dua dari Vietnam dan dua dari Australia meringkuk di satu compartement bersama dua orang penumpang bertiket. Ditambah kami jadilah 8 orang dalam satu ruang yang seharusnya untuk 6 orang.
Sang manager kereta datang lagi. Kali ini ancamannya benar2 dilancarkan. Cewek Vietnam menyatakan argument dengan jelas. Kami bengong menatap mereka saling bersitegang terkadang dengan nada tinggi. Bahkan menuding dengan hp masing-masing. Sang manager kembali menatap saya, nampaknya ia masih tidak percaya bahwa saya bukan orang Vietnam. ‘I am Indonesia 'mam, I can not speak Vietnemese’ ujar saya kali ini sama-sama dengan nada tinggi. Proses argumentasi terus berlangsung disela saling telpon antara agent dan atasan di Hanoi.
Hasilnya : kami harus bayar tiket diatas kereta sebesar 200,000vnd per orang dan agent kami di Hanoi akan mengganti. Walau kami tahu sesungguhnya harga tiket adalah sekitar 150,000vnd. Merasa senasib berenam kami kompak bahu membahu membayar karena kami kehabisan duit dong. Dua orang berusaha mencari tempat tidur nganggur, walau hasilnya hanya membawa bangku plastic mini untuk alas tidur. Empat cewek berdesakan tidur di bed paling rendah sedang lainnya tidur di atas.
Sungguh ngg bisa dimengerti gimana system ticketing kereta di Vietnam. Si cewek Vietnam yang mengaku 10th hidup di luar negaranya ini mengatakan bahwa tiket dikuasai semacam mafia. Jadi mereka membeli tiket dan menjualnya kembali kepada agent2 perjalanan dengan harga 30% lebih mahal. Pihak perusahaan KA sendiri ditengarai ikut bermain didalamnya.
Rasanya ini menjawab keganjilan2 yang kami rasakan. Kami kesulitan mendapat tiket baik kereta dan bus. Hampir semua agent yang kami hubungi menyatakan full booked, padahal senyatanya direserved oleh pihak kereta dengan mafia dibelakangnya. Ngg heran banyak tempat yang masih kosong ketika kami melihat gerbong. Sebuah system yang korup menurut kawan saya ini.
Bagaimanapun kami sampai juga di Hanoi. Tepat pukul 5 pagi pintu compartment digedor dan suara radio Vietnam terdengar di speaker. Bergegas kami berberes dan meninggalkan stasiun kereta. Dengan lega kami menyusuri jalanan Hanoi yang mulai dipenuhi pengendara motor dan para jogger. Para penjual asongan mulai menyotir koran paginya. Kami juga menyiapkan amunisi untuk memarahi agent setiba kembali di Hang Bac.
Next : Reunification Express train ....oh NOOOO naik kereta lageee ???
Labels: travelling, vietnam

Hanoi, 4th February
Jumat pagi kami trekking 14 km ke beberapa desa di sekitar Sa Pa. Rute lumayan mengasyikan dengan jalanan cenderung menuruni bukit. Semalam cuaca dingin sekali, kami perkirakan 10C diluar. Sa Pa mengingatkan saya pada pegunungan Tengger dengan penduduk aslinya. 
Black Hmong adalah ethnis minoritas di Vietnam. Berbeda dengan saudar2nya di pegunungan Thailand, suku Hmong di perbatasan Vietnam mempunyai keunikan tersendiri. Mereka masih memakai pakaian tradisional, biru gelap mendekati hitam. Proses pewarnaan sendiri memerlukan waktu yang lama biasanya diletakkan di gentong besar belakang rumah. Tahun Baru atau Tet Festival dirayakan Hmong hingga seminggu lamanya. Karena itu dalam beberapa hari ini mereka berdandan dengan pakaian khas untuk pamer dan mencari pasangan. Di Kamis siang ribuan orang Hmong berbaur dengan Dzao dan Tay tumpah ruah di Sa Pa sembari berbelanja.
Wanita Hmong mencari pasangan begitu mereka melewati masa akil baliq. Jadi 13-14th adalah wajar bagi mereka. Pihak wanita melamar laki2. Sebagai penjajakan biasanya mereka saling melirik dan memberikan isyarat tubuh tertentu. Begitu tanda setuju lantas segera berduaan. Tak heran banyak sekali perempuan Hmong yang punya anak dalam usia sangat muda. Sang bayi digendong dengan kain bahkan untuk mencari pasangan baru. Tidak ada keterikatan untuk cari pacar baru, hanya komitmen yang mendasari hubungan.
Di jalan saya ketemu pasangan muda yang nampaknya saling cemburu. Sang perempuan menangis terduduk menyembunyikan muka sambil memegang tangan sang kekasih. Mereka mungkin berusia 16tahun. Guide saya, Buen seorang perempuan black Hmong yang tangkas menjelaskan bahwa budaya ini sudah ratusan tahun diyakini suku mereka. Buen sendiri menikah usia 18th, belajar bahasa Inggris dari turis. Pekerjaannya sebagai guide adalah untuk membantu suaminya yang bekerja di sawah. Anak2 suku Hmong rupanya berjualan suvenir sebagai cara untuk belajar bahasa inggris dengan cepat. Menjadi guide adalah jaminan masa depan dan peluang yang lebih baik.
Next : nekad naik kereta tanpa tiket ke Hanoi dan bersitegang dengan manager kereta....
Labels: travelling, vietnam
Sa Pa, Vietnam border 2rd February 2006



Labels: travelling, vietnam
