Saya tidak tahu sebenarnya tahun baru akan dihabiskan dimana. Itinerary yang saya susun hanya kasar, kegiatan utama ditaruh di waktu tertentu. Penginapan juga tidak booking jauh hari. Begitu sampai di Franz Josef saya diberitahu staff Montrose Backpacker bahwa Queestown -kota yang akan saya lewati memakai peraturan unik di tahun baruan.
Mereka hanya bersedia menerima tamu yang booking. Jadinya ketika dipesankan sebuah tempat di Kinloch sekitar 26 jam dari Queenstown saya manut saja. Masih beruntung dapet tempat di musim ramai begini. Sebelumnya saya melewatkan tidur di dorm, sharing dengan 8 orang lainnya. Semalam NZ$25, bersih sekali dengan dapur dan toilet komunal. Saya bisa hemat banyak backpacking di NZ ini dengan memasak sendiri. Memilih hostel dengan fasilitas self catering. Lumayanlah...apalagi hostel selalu menyediakan piranti masak berikut kulkas untuk penyimpanan sementara.
Sejak dari Chriscurch - Hanmer Spring - Murchison - Greymouth - Westport saya gonta-ganti hostel. Tadinya saya memilih jaringan Youth Hostel Association (YHA), tapi dalam perjalanan saya sering memakai Budget Backpacking Hostel (BBH). Montrose misalnya, walau ngga ada di guide book tapi tersohor pelayanannya. Hari pertama di Franz Josef saya dapat dorm sharing dengan 4 orang lainnya (NZ$25). Hari kedua saya diberi ensuite kamar (NZ$80 berdua).
Dalam 6 hari terakhir hampir semua rencana berjalan lancar. Whitewater rafting di Buller River, Blackwater rafting di Murchison, Ice climbing di Franz Josef Glacier dan mencicip tebing Fox Glacier dan Mt Cook dari sisi West Coast. Pengalaman ice climbing yang kedua buat saya, yang tetap membuat pegel tangan dan babak belur dengkul. Namun melihat dari dekat bentukan glacier membuat saya menghormati petualangan Sir Ernest Sackleton 1915-1916 -kisah survival terhebat. Betapa berat bertahan hidup berbulan di lingkungan yang hanya air air air.
Malam ini menjelang tahun baru saya duduk di depan bara api di tepi danau Kinloch. Melihat bintang yang terang benderang di langit.. Bersyukur saya masih bisa melihatnya. Berharap lebih baik tahun depan. Selamat tahun baru 2008.
Labels: new zealand, travelling

Labels: hiking, new zealand, trekking
Akhirnya saya harus meninggalkan negeri ini. Dua bulan setengah. Banyak sekali yang belum sempat saya tulis. Jalan-jalan ala turis di Logshan Temple, Royal Palace, Chiang Kai Shek, atau hiking ringan di Mt Cising Yangminshan Nat Park, Taroko Nat Park dan offtrack Maokong sembari wedangan teh hijau yang nyamleng.
Saya menyukai Taipei dengan segala keunikannya. Saya menemukan penduduknya lebih ramah ketimbang Singapura atau China sekalipun (ah ya Taiwan mencoba identitas sendiri). Kebiasaan mereka yang chatty banyak saya temukan di cafe atau di kereta. Mengingatkan saya pada Jogja. Bila kita lewat depan rumah, walau tidak kenalpun pasti disapa.
Kemiripan yang lain adalah kesukaan hal2 yang manis. Roti super manis, juga kopi ini misalnya dengan caramel diatasnya. Ini di Dante, warung langganan saya -dinikmati sambil baca buku atau mengamati manusia Taipei yang ngobrol. Yah keramahan yang akan saya ingat membuat saya pasti merindukan untuk kembali kesini.
Walau sempat terancam batal, saya pergi juga. Nyang-nyangan dengan bosbesar dengan segala konsekuensinya. Jalan tengah : saya duluan urus semua persiapan mlaku-mlaku, sedang Mr C ditinggal dulu. Perubahan yang cepat sekali, dalam hitungan jam saya harus membatalkan check in, pesan baru lagi dan juga tempat menginap. Seperti saya bilang ke semua orang memang beginilah pembantu umum aka sekpri aka PA. Ngga mudah apalagi musim holidays begini.
Yang penting saya masih bisa menikmati tahun baru di tempat yang hanya ada bintang.
Labels: taiwan

Saya dikabari Ba'da Qurban akan dilakukan hari ini (20/12/07) pukul 8 di Grand Mosque. Jadi lah gedabikan (baca : kalang kabut) bangun pagi menuju lokasi. Sampai sana...lah kok sepi. Saya malah ketemu mbak Romlah diantarkan suaminya. Tak lama seorang bapak datang, berdandan necis. Kami sapa. Beliau katanya baru 3 hari di Taipei, sepertinya pegawe negara. Tak lama seorang gadis datang, namanya Hani dari Indramayu.
Mbak Romlah bilang katanya sholat di masjid Da'an. Saya bingung. Mungkin info yang saya terima salah. Kami berunding. Kata mbak Hani dia tahu masjid satunya lagi. Ngga jauh kok, jalan kaki saja trus masuk gang. Besar juga masjidnya.
Berempat kami naik taksi, mengejar waktu. Dicari-cari akhirnya ketemu juga. Walau ternyata juga sholatnya sudah kemaren Rabu setelah konfirmasi dengan pengurusnya. Walah....ya sudah. Sampai rumah saya cek lagi. Lha ternyata saya-nya yang pekok, kurang memperhatikan kalau kemaren itu Rabu. Pikiran memang ngga nyanthel saat itu. Wes...wes...wes. Hikmahnya saya tahu ada satu lagi masjid di Taipei.
Berikut alamatnya :
3, XinHai Rd Sec 1 Lane 25
Taiwan, ROC
cuma 3 menit dari MRT Sta Taipower Building (warna ijo atau Xindian Line)
Labels: taiwan

Labels: travelling, united kingdom

Labels: indonesia, taiwan, travelling

Saya agak jengah. Salah satu tulisan saya 'dibuat sedemikian rupa' sehingga menjadi tulisan mirip. Ini bukan yang pertama tapi saya mengendus modus operandi pembajakan konten blog yang baru.
Tulisan saya dalam bahasa inggris, diangkat dari pengalaman saya naik pesawat SQ 777-300ER dari Taipei ke Singapore. Critanya sih tentang aplikasi baru di Kris World Entertainment yang menambah program Office dari Opensource dalam basis Linux.
Nah blog ini ternyata menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Emang ngga banyak kok wong tiga paragraph saja. Cuma yang saya sorot adalah kealpaannya mencantumkan referensi tulisan asli dari ceritaambar.
Dalam dunia blogging, menulis referensi itu PENTING untuk memberi tahu pembaca asal usul tulisan. Jadi bukan hanya kopi pas tapi memberikan review/opini/komentar yang lebih dalam. So satu topik bisa dibicarakan 200 orang tapi saling berhubungan.
Saya menghargai sekali si pemilik blog yang susah payah menterjemahkannya. Saya pun masih berbaik sangka. Mungkin memang si admin kagak tau aturan blogging. Mungkin dia ngga tau apa gunanya fasilitas trackback atawa ping. Kalaupun ngga ada alangkah lebih baiknya meninggalkan jejak (ia menulis komen tapi tidak menyinggung ini). Hanya saja kok ya teteup masang photo saya juga gitu loh ....he he he.
Atau saya yang over reacting yah...
Labels: singapore, technology
Food and Drink“It’s not the mountain we conquer, but ourselves”
Edmund Hilary
Saya tiba-tiba ingat adik bayi di Cemoro Sewu. Dengan medan begini pasti orangtuanya berjuang keras membawa dia ke puncak. Jalur ini memang agak tajam. Kata bapaknya, ia hanya membawa ransel dan bergantian dengan ibuk menggendong bayi. Jangan dibayangkan dengan baby-carrier canggih itu. Mereka hanya membawa kain gedong.
Kaki saya ayunkan pelan. Sejak melewati pos II tadi saya sudah memakai ilmu alon-alon waton kelakon. Lima belas tapak kaki, lantas berhenti. Ambil nafas dua tiga kali dan terus. Saya memang slow-starter.
Suhu masih menyenangkan. Saya copot semua jaket dan fleece. Konsekuensinya saya harus terus bergerak. Keep moving, sebuah kata memberi perintah di kepala. Saya mulai melihat edelweiss pagi itu. Baunya yang harum sangat saya kenal.
Saya senyum lagi. Belasan tahun lalu saya memetik edelweiss, sembunyikan di ransel. Hanya untuk trophy bahwa saya mencapai puncak Lawu. Hal yang saya sesali sekarang. Tangan saya ini sama jahatnya dengan illegal logger.
Saya melihat jalanan disemen beberapa tempat dengan besi pegangan. Ngga habis pikir, karena sebenarnya juga ngga terjal2 amat. Puncak sudah tidak terlihat. Saya sekarang menaiki punggung menuju gigir di pos IV. Saya ingat2 sedikit. Dulu karena kepagian kami tidur di jalanan.
Kabut merayap turun, tetes hujan mulai terasa. Saya lihat gps. Ah mendekati 2800mdpl. Tinggal 230an m tinggi dengan 1 km jalan. Kalau diitung hanya sekitar 30 derajat naiknya. Cemoro Sewu, awal saya ndaki tadi pada ketinggian 1922mdpl. Jadi sebenarnya naik Lawu hanya sekitar 1000an meter saja. Saya hanya mengandalkan ingatan masa lalu. Walau track terlihat jelas tetap beda rasanya. Beda antara malam dan pagi.
Sedari tadi saya tidak bertemu banyak orang. Hanya satu orang yang turun. Ia nampak capai dan hanya bersandal jepit, beransel seadanya. Kami bertukar sapa. Biasalah….pasti nanya dengan siapa saya naik. “Sendiri Mas”. Ia menatap saya. Bukan heran tapi seperti ‘pity’. Ia mungkin berpikir, kasian sekali mbak ini. Impresi yang saya dapat persis ketika di Cemoro Sewu.
Begitu mendekati pos IV saya mengambil keputusan untuk turun. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Saya menciptakan rules bahwa sampai tidak sampai puncak saya turun. Ada proses tawar menawar. Ah nambah dikit lagi kan sampai. Ayolah bentar lagi kan tinggal lurus saja. Saya tahu setelah pos V hampir tidak ada tanjakan berarti. Hanya padang reumputan terhampar. Mirip lapangan bola.
Saya putuskan menambah setengah jam. Kali ini saya mulai merasakan penat. Saya nambah lagi. Ngga terhitung berapa liter yang habis. Camel bag saya hanya nyukup 2 liter. Sedang dua botol 1literan saya khususkan untuk turun. Lainnya entah.
Setengah jam berlalu kaki terasa berat. Saya diam. Saya menengok gps. Hmm…cukuplah untuk hari ini. Tanpa pikir dua kali saya balik kanan. Saya merasakan energi lain. Dengan bergumam, “Mbah kulo wangsul. Maturnuwun pun direncangi.”. Hanya suara angin dan desah gesekan dahan yang menjawab. Bulat hati saya memilih turun.
***
Menjelang pos I saya mendengar suara menggema. “Mas Jo” Suara laki-laki, lantang di kesunyian. Berkali-kali. Tak lama seorang baya nongol di sudut jalan. Ia nampak setengah capai, berhenti, berteriak lagi. Di tangannya tergemgam rerumputan.
“Pak madosi sinten?” sapa saya. “Lah niki rencang kulo mbak” jawabnya menegaskan dugaan saya. “Njenengan wau papasan tiyang mboten?” tanya dia. Saya bilang tidak. Saya minta menjelaskan seperti apa orangnya. Bukan laki2 yang saya tahu turun tadi.
Kami ngobrol sambil turun. Ia ternyata sedang mencari tanaman obat. Dia bilang kawannya itu menghilang karena tidak mau lokasinya diketahui orang lain. Dari jauh terdengar teriakan orang. Mereka ternyata satu tim dengan tiga empat orang menunggu di pos I. Tiga perempuan yang tengah mengaduk tanah. Saya jadi ingat betapa orang tergila-gila pada Jenemanii Anthurium. Tapi mereka beda. Hanya mencari semak untuk obat ginjal katanya.
Kami jadi bertutur soal tanaman hias. Saya kaget ketika diberi tahu harga Camelia warna pink bisa mencapai jutaan. Nyesel deh saya cabut untuk dibuat kolam ikan he he he.. Saya sembari istirahat, makan sebatang coklat lagi. Tak lama saya putuskan meninggalkan mereka.
Begitu di Cemoro Sewu saya nyamper Pos Jaga. Lapor saya selamat. Adik bayi masih bermain ceria dengan bapaknya. Sang ibuk masih terlihat kaku kakinya. Saya tawarkan obat flu. Ia menolak. Sebenarnya bukan obat flu tapi Vit – I alias Ibuprofen untuk sekedar mengurangi sakitnya. Saya pamit. Saya tinggali minum dan permen.
Saya duduk di trotoar jalan, siap nyari tumpangan. Mas Jaga rupanya ngga tega, sehingga ia menemani saya. Waktu menunjukkan pukul 12an, gelap karena kabut. Beberapa motor lewat. Satu kijang menuju Tawangmangu –arah yang berlawanan.
Tak lama sebuah pick-up coklat datang. Saya kejar. Minta ijin nunut sampai Sarangan. Tadinya saya sudah menyiapkan diri lompat ke bak belakang. Saya lihat ada tiga kambing muda sedang mengunyah rumput. Bau srinthil menyengat. Lah gak papa, nanti kan dicuci. Pikir saya tentang baju dan tas yang kotor dan bau. Saya dipaksa duduk didepan. Ada pasangan paruh baya dan sopirnya. Jadi kami berdesakan. Pantat saya sisihkan setengah.
Kami bertegur sapa. Mereka adalah pedagang kambing yang pulang setelah dari pasar di Solo. Bak pic-up pagi tadi terisi penuh kambing dan sekarang tinggal beberapa ekor. Wah hebat juga. Saya tanya apakah sudah pernah ke Pasar Legi di Kotagede-kampung saya. “Wah lha niku daerah jajahan kula mbak”, serunya sumringah.
Kami ngobrol ngalor ngidul. Dari masalah politik, membandingkan orde baru dengan orde sby. Tentang susahnya cari pekerjaan. Sang bapak menuding supir. “Ini anak saya yang kecil sendiri; saya latih nyetir. Biar ada keahlian mbak. Tinimbang nganggur di rumah”.
Saya baru sadar bahwa sopir pick-up ini begitu muda. Mungkin sekitar belasan. Ia melaksanakan tugas dengan diam dan sesekali menimpali senyum. Beberapa kali bapaknya memberi pengarahan. Di tikungan tajam dan turun, atau sesekali papasan kendaraan lain.
Weh ngeri juga, batin saya. Mulai was-was. Tapi melihat kemampuannya saya katakana ia sangat berbakat. Hanya biasa-lah anak muda, tergoda ngebut dikit2. Tak terasa saya sampai Sarangan, tapi ternyata si ibu bilang akan menurunkan saya di Pasar Plaosan. Ngobrol jadi berpanjang-panjang. Lantas saya disusulkan angkot. Saya turun, mengucap terimakasih atas tumpangan. Mereka ngga mau dibayar. Saya lihat cahaya iklhas di mata mereka.
Saya mencari angkot lagi menuju Kauman.
(selesai)
Catatan akhir:
Puncak memang bukan segalanya. Saya bukan pendaki jagoan dan saya tidak merasa bangga ‘menaklukan’ gunung. Saya bisa bertemu manusia-manusia yang memberi hikmah di kehidupan ini. Saya jadi dekat dengan angin, bumi dan pohon. Buat saya itu karunia yang tak terhingga sampai detik ini.
In memorium comedian Basuki who died yesterday. Betapa hidup begitu singkat dan berharga.

Saya tidak tahu arti tektok. Tapi menurut perempuan tangguh ini, tektok artinya melakukan pendakian cepat dengan bawaan ringan. Saya lebih suka memanggilnya jugcing (ujug-ujug tur plencing artinya tiba-tiba datang dan langsung pergi). Mirip toh he he he…*maksa*
Sebenarnya mungkin pola naik gunung saya seperti itu. Ngga suka menghabiskan waktu lama2 di puncak dan lebih memilih menikmati prosesnya. Excercising sembari meng-apresiasi apa yang ada di sekeliling.
Saya jadi mengamati alam dengan seksama. Saya bisa melihat geliat burung yang loncat kesana kemari, edelweiss harum ketika basah, tetesan air di dahan kering. Hal2 kecil yang alpa terlihat. Iyah saya belajar naik gunung dengan diam. Dalam arti yang sesungguhnya. Tanpa distraksi tanpa hape tanpa teman. Hanya saya dan pikiran mengembara.
Pas Pengendalian – Pos 1 Wesenan – Pos 2 Watugedhek – Pos 3 Wolu Gedhe. Pagi itu cerah sekali, bentuk pundak Lawu terlihat jelas.
Saya memandang puncak dengan gamang. Seperti biasa saya selalu nerveous, ada keraguan. Kok tinggi ya. Padahal seingat saya enggak segagah itu. Ah ya duluuuuu saya naik Lawu selalu malam hari, jadi mana sempat lihat bentuknya. Pendakian Massal lagi ….*halah khas anak sma*
Semburat kuning di langit yang tadi muncul mulai menerangi langkah saya. Jalak Gading burung dengan suara ramai mulai bersiulan. Saya diwanti-wanti oleh Mas Jaga untuk tidak menganggu jalak ini.
Setelah jalan 30 menit melewati kebun penduduk saya mulai kepanasan. Tadi memang saya putuskan untuk tidak sarapan. Kosong. Saya kapok, pernah sarapan pagi jadi muntah karena otot yang seharusnya untuk mencerna makan saya paksa untuk jalan.
Kanan kiri saya adalah pohon yang sepertinya terbakar. Jejak hitam masih terlihat di batangnya yang jadi arang. Entah kebarakaran disengaja atau tidak.
Saya melewati warung, tutup. Tidak ada tanda kehidupan apapun. Sambil jalan saya membuat planning. Menurut teori 4-5 jam adalah waktu yang cepat untuk sampai puncak. Jika saya mulai pukul 430 pagi paling tidak saya nyampe puncak 930. Itu kalau dengkul tuwo ini bisa dipacu. Ok saya liat performance dululah hingga pos II. Apalagi jarak pos jaga-pos II (4km) bisa dibilang separoh jarak total.
Bekal saya hanya cukup hari ini saja. Saya termasuk peminum berat, jadi 5liter agak mepet. Makanan hanya beberapa coklat, permen 20-30biji, energy boost (seperti gel yang berisi kalori 125mg) beberapa biji untuk jaga2 kalau saya muntah.
Setelah dua jam saya putuskan brenti dan makan. Keroncongan bener…sebuah energy boost plus separoh coklat. Saya nyesel kok ngga bawa buah ya. Lumayan sebenarnya mengganjal perut. Saya pernah kena maag berat jadi soal konsumsi agak ati2.
Saya mulai kringatan. Minum memang ditaruh di camel bag, masuk ke ransel. Jadi saya tinggal sedot. Air minum yang saya campur butiran elektrolit sisa trekking Everest April lalu (walah….masih ada ternyata, sayang dibuang).
Sejak pos jaga saya juga menyalakan tracking gps. Halah bukannya takut ngga nemu jalan, tapi untuk saya buat catatan saja. Beberapa kali sempat kehilangan sinyal, tapi secara umum tidak terlalu rimbun dan tinggi.
Aneh, saya enggak takut atau nervous lagi. Mungkin karena sudah ngga gelap. Atau saya terlalu asyik menikmati hutan.
Pos 1 Wesenan saya lewatin karena sudah istirahat tadi. Saya mulai hitung2 stamina dan waktu. Saya merasa lambat sekali. Atau ini pertanda saya mulai tua yah…
Pos 2 Watugedhek saya kejar. Teteup merasa lambat. Saya bahkan ngga mengeluarkan kamera sesering mungkin. Saya nikmati pemandangan ini untuk diri sendiri.
Naik gunung sendiri selalu dituding egois. Iyah memang. Tapi sendiri juga menuntut tanggung jawab moral yang besar terhadap orang disekeliling kita. Orangtua, pacar, suami, anak, kawan.. Paling tidak kita punya batas kemampuan untuk menjaga diri sendiri. Tidak ada yang bisa dimintai tolong kalau terjadi apa2. Bahkan pada hape sekalipun.
Dulu jaman sekolah, gunung adalah tempat untuk berlabuh (tiiiit salah….pelabuhan mah di pantai). Maksudnya tempat untuk membawa lari permasalahan. Entah pacar atau nilai ulangan yang jeblok.
Saya senyum. Pendakian Massal Lawu dulu saya harus ‘bohong’ pada bapak. Saya bilang kemping. Saat itu gunung juga pelarian ‘tekanan’ di sekolah (hiks... secara statistik angka bunuh diri teman alumni sma saya memang tinggi). Sekarang?
Gairah itu tidak saya temukan lagi. Mungkin saya hanya butuh tempat untuk sendiri. Merenungi perjalanan hidup yang mirip2 naik gunung. Setapak demi setapak, jangan liat puncak tapi liat jalan di depan. Philosophi yang saya pegang teguh hingga sekarang.
Suara desah angin membangunkan saya. Pandangan saya edarkan ke sekeliling. Masih hutan, tapi saya merasakan kabut mulai turun. Jam menunjukkan pukul 830 pagi. Saya masih di pos 3. Tadi saya lewati saja. Berhenti hanya membuat catatan waypoint.
Langkah kaki saya mulai gontai.
(to be continued : ternyata puncak bukan segalanya)

Mau naik gunung sendiri?
Ra sah kewanen jo, mengko nek ana apa-apa seng keno ya aku. Begitu kira-kira kata Mr C kesaya (note : translate-nya seenak sing nulis yaks). Dasar keras kepala saya nekat. Saya bilang, lha wong jalannya mulus kok. Ngga ada hidden passage-nya atau tantangan berarti. Ngga ada via-ferrata, ngga ada scrambling2an. Lurus rus. Lagian ini memang bukan untuk mengejar self-praising. Narsis photo-photo di puncak maksud saya. He he he…
Ngga susah meyakinkan keluarga di rumah. Ibuk saya sudah terbiasa dengan ‘ilangnya’ saya. Hanya Paklik saya yang rada khawatir walau tidak ditunjukkannya dengan nyata. Sejak bapak meninggal, beliaulah yang mengawasi anak2 wedok mbeling ini. Mr C yang saya minta ijin cuma pesan, nek ana apa-apa telpon ya (secara kemudian tahu bahwa ndak ada sinyal disana dan dia tahu tabiat saya yang jarang ngidupin hape klo naik gunung).
Magetan 31 Oktober 2007 jam 11an setelah packing bawa makanan dan minum seadanya
Saya nyegat kendaraan ke Sarangan dari depan rumah paklik saya. Cuma lima rebu saja, diantar ke pertigaan menuju arah Tawangmangu. Saya tahu susah sekali angkot kesana. Kalau enggak hitchhiking atau terpaksa ngetem berjam. Jadi sebaiknya memang sebelum siang nyampe sana.
Saya duduk samping pak sopir. Dari ransel saya ia menebak akan naik gunung Lawu. “Mbak koncomu sapa?” tanyanya sopan. Saya jawab kalau akan ketemu teman2 di Cemoro Sewu. Hmm mekanisme self-protection saya bekerja. Terutama kalau sendirian, saya selalu ‘berbohong’ bahwa ada kawan yang saya temui. Lantas kami cerita macam2. Dia juga menwarkan mencarikan guide ke puncak. “Lewat dalan anyar mbak, luweh cepet. Mung 3 jam tekan puncak” katanya meyakinkan saya.
Telung jam gundulmu. Lha iku sikil ngendi Pak, batin saya. Jangan dibandingkan dengan anak2 muda itu. Dengkul tuwo begini, awak cilik ngene. Saya menampik dengan halus. Ia menurunkan saya di pertigaan dekat ticketing. Saya turun dan langsung disambar sopir angkot lain. “Cemoro Sewu Mbak?”
Saya mengangguk. “Suwe ora Mas?” tanya saya menyakinkan apakah ia akan ngetem lama. Dia bilang tidak. Oke walau ragu saya langsung masuk. Didalam sudah ada dua orang laki2. Alarm saya langsung berbunyi, tapi saya amati mukanya. Ah mereka baik2 kok. Terlihat dari satu orang yang tersenyum ramah.
Sambil ngetem, ia menyapa saya. Rupanya ia memang mau ke Tawangmangu setelah puter2 Jawa Timur sehabis lebaran. Sendirian, sama seperti saya. Masih muda, sekitar dibawah 25 tahun. Kami ngobrol sambil ia meneruskan merokok. Beginilah kalau di Indonesia, pasti dikelilingi asap.
Cemoro Sewu 13.00 berawan, berkabut tapi tidak dingin
Saya diturunkan dekat warung, sekitar 5 menit jalan dari pos. Tebakan saya benar. Karena bukan sabtu minggu tidak ada warung yang buka. Duh cilaka tenan. Saya hanya beli makanan, permen dan tambahn air minum di warung cilik.
Saya menuju pos, lapor. Disana ada anak muda berjaga dan seorang ibu menyusui bayi 6 bulan. Yang jaga bertanya dengan siapa saya naik. Dia agak tidak percaya ketika bilang au naik sendirian. Tapi tampaknya ia sudah biasa dengan banyaknya peziarah nekat. Tapi jelas potongan saya bukan peziarah. Kalau nekatnya mungkin mirip he he he…
Saya ngobrol dengan ibu tadi dan bermain dengan adik bayi. Mereka ternyata baru turun dari Lawu setelah menghabiskan 2 malam di puncak. Wow! Hebat nian adik bayi ini. Dia nampak sehat gembira, cuma hidungnya meler umbel. Ibuknya yang terlihat kecapaian, kakinya kaku. Susah digerakkan. Efek naik gunung, otot tertarik asam urat menumpuk.
Bapak si Bayi tadi nongol. Makin ramelah kami ngobrol. Crita soal kenapa membawa bayi ini ke puncak Lawu. Mistis pokoknya. Kalau saya cerita bisa2 jadi kolom oka-oka.
Sore itu hujan deras sekali. Sangat deras. Saya bersyukur dalam hati. Biasanya setelah hujan deras sore, cuaca akan cerah paginya. Saya membatalkan naik malam. Takut ah…atau gara2 cerita mistis bapak tadi ya.
Saya memilih tidur di ruang recovery, soalnya lebih hangat dan ada teve-nya lagi he he he. Jadilah malam itu saya habiskan nonton teve. Sore itu sang bapak memasak nasi dan oseng2 tempe dan telor ceplok sebagai hidangan makan malam. Saya diajak makan bareng. Enak sekali. Sang adik bayi juga makan dengan lahap.
Malam itu saya tidur dengan lelap. Hujan masih turun hingga tengah malam. Saya memakai jaket untuk selimut, disamping saya adalah ibu dan bayi dalam kungkungan sleeping bag yang hangat.
Pos Jaga 430 pagi, langit cerah sekali. Semburat merah mulai terlihat.
Bergegas saya bersiap. Cuci muka bersih2 pipis beol. Cek lampu cek baju dan berangkat. Semua masih tertidur jadi saya ngga bisa pamit. Saya melangkah pelan. Masih gelap di jalanan. Jalur masih bisa dilihat dengan mata telanjang (eh sori pake kacamata kok). Jadi saya matikan headlamp.
Saya berjalan dalam diam. Saya amati betul suasana pagi hari. Burung2 mulai datang, angin bertiup lembut. Hawa dingin terasa di pipi. Langit begitu cerahnya, saya hirup udara pagi. Memenuhi paru-paru. Saya cium aroma hutan.
Langkah kaki saya terayun dengan pasti.
(to be continued : tunggu besok yah)
Berkat bisikan seorang photografer handal di Taiwan saya diberi tahu toko asesoris di Taiwan. Namanya Yang.Wei-Jen (aka Sherpa). Hasil photonya kebanyakan berupa landscapes diambil dengan film kamera, holga, lomo ataupun hasselblad xpan (hiks kapan nyobain ini yah..)
Tokonya bernama Keyphoto. Letaknya sih ngga jauh dari rumah, tapi kalau jalan kaki ya theyol (baca : pegel) juga. Gampangnya adalah satu gedung dengan Carrefour Taiwan, cuma ini di lantai 5. Aksesnya dari pintu samping. Karena ngga ada papan nama latinnya, siap2 nanya (atau tersesat kayak saya he he he…)
Yang pasti toko ini enggak menjual kamera. Tapi hanya asesoris photography saja. Misalnya filter, tas, reflector, lampu, payung (he eh…) dll. Ada tempat workshopnya juga. Saya malah main2 motoin si wezgies dengan lightbox disitu.
Alamat lengkapnya disini :
歡迎來參觀展示中心
110台北市信義區東興路37號5樓/ 5F, 37, DONGXING ROAD,TAIPEI
TEL:(02)87681238/FAX:(02)87683260
Email:keystone@kphoto.com.tw
營業時間:週一至週六 上午9:00-下午6:00 例假日休息
OPEN HOUR:9am-18am Monday-Saturday
Labels: photography, taiwan

Selama in and out negeri Taiwan ini saya mencoba beberapa macam moda transportasi. Dari berbagai pilihan saya merasa cukup mudah memilih. Jarak antara bandara Taoyuan dengan city centre memang agak lumayan, melewati pintu tol sekitar 20km. In total bisa sekitar 40-50menit dengan kendaraan pribadi. Kemacetan jarang terjadi, lalu lintas tetap bergerak walau jadi lambat.
Berikut adalah summary-nya :
1. Taxi.
Cukup banyak service taxi, dari yang biasa (warna kuning) atau yang layanan limousine (warna hitam Mercy). Taripnya sama saja sebenarnya sekitar NT$1200-1400, jadi kalau pengen serasa boss yah cobalah limo. Dengan taxi selain gampang juga bisa diantar langsung ke tujuan. Masalahnya tidak semua supir taksi mengerti bahasa Inggris. Jadi siapkan alamat dalam karakter China atau peta yang menunjukkannya.
No taksi biasa yang bisa dicall : 0932 245 242
No taksi limo/mercy : 0930405292 or 0955010609 atau contact alandai0516@yahoo.com.tw
2. Bis shuttle.
Begitu turun dari pesawat, melewati pintu imigrasi ikuti tanda Express Bus. Arahnya ke kanan, jalan sekitar 5 menit saja. Tak lama akan terlihat berderet tiket penjualan tiket shuttle bis tadi. Ada sekitar 5 services yang berbeda rute, tapi kebanyakan melewati titik penting di city centre. Taripnya sekitar NT$100-140 dengan durasi sekitar 40-50 menit.
Saya mengambil bis yang berhenti di depan Main Train Station lantas dengan MRT menuju ke tempat tinggal. Sedang daftar selengkapnya klik disini. Kalau arah Taipei menuju Bandara pergi saja ke Bus Station yang sebelahan dengan Train Station. Cari tanda shuttle bis ke bandara.
3. High Speed Rail (Taiwan HSR) disambung shuttle bis
Ini pilihan menarik sebenarnya. Alasan saya make ini hanya karena pengen ngerasain kereta cepat yang baru dioperasikan Januari 2007 lalu. Saya memilih nyegat dari Banciao station ketimbang Main Station. Yah cari suasana beda aja. Dengan MRT saya menuju Banciao dan beli tiket disana. Harganya adalah NT$130 one way turun di station Taoyuan.
Banciao lebih tenang dan menyenangkan ketimbang Main Station. Sedang waktu tempuh ke Taoyuan hanya 10 menit saja. Yups memang kereta ini memakai tehnologi Shinkansen Jepang. Beda dengan kereta cepat Maglev antara bandara Pudong ke Shanghai kota yang tiap gerbong ada panel kecepatan kereta, maka HSR ini biasa2 saja tapi walah....kenyamanannya emang yahud. Ngga terasa sama sekali, ngga pating glodhak dan remnya juga tenang. Tidak ada hentakan berarti.
Walau cuman 10 menit saya ngerasa puas, dan langsung turun mencari shuttle bis ke bandara. Nah ini yang rada aneh, ternyata jadwal shuttle ngga mengikuti jadwal kereta datang. Akibatnya ganti taksi sajalah. Ongkosnya NT$200. Kalau dihitung hemat juga karena kurang dari separuh tarip taksi penuh. Menurut pengamatan visual saya, akan ada direct link dari Bandara Taoyuan ke Taipei. Cuma kapan dilaksanakannya nah ditunggu saja.
Labels: taiwan

I am just back from trekking Mt Pinatubo in Luzon Philippines last weekend. It was amazing experience for me who finnaly got first hand witnessed the scale of eruptions 1991 -called second biggest after Krakatoa 1883.
It came to my realization that the effect of Pinatubo also create global increase of temperature into about 0.7F, released 125,000 km2 cloud into stratosphere. I saw hundreds of meters ashes cliff that surrounding the crater of Pinatubo, looks fragile due the heavy rainfall sliding into the rivers.
The trek started in early morning from St Juliana village by 4x4 wheels strong jeep, then continue across the sand field and river for about an hour. Then another three hours to go up followed the river stream to the crater. Mt Pinatubo peak actually gone during the great eruptions leave 2.5km wide crater with turquoise lake. Believe me...it was nice had a dip on the lake.
It was fascinating for me to see how the young forest develops. I did not see big trees, only one two tree ferns that actually takes more than ten years to settle. The Aetas -original tribe living on the Mt Pinatubo also back to the highland. They hunts wild animal, grows bananas and plant paddy on the fertile land. Most of Aetas survived from 1991 as the government and US Military based in Clark monitored the activities closely, create massive evacuation that saved many lives.
The weather on our side. It was clear, beautiful day. I managed take few shoots but mostly on video. I did forget to take more CF card (lesson to be learn) and made dash around city of Manila. Surprisingly I found 1 GB card, no more than that. Arghhh.......
Picture in Flickr Set or click the photoset
Labels: hiking, philippines, trekking
